RADARTERKINI.ID | PASURUAN – Tim Napak Tilas Sirnah Gali melaksanakan kunjungan sekaligus ziarah ke kawasan pemakaman waliyullah bersejarah di Desa Segoropuro, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi momen spiritual yang sarat makna, sekaligus menarik perhatian sebagai destinasi religi yang kental nilai sejarah.
Kunjungan tersebut melibatkan Tim Napak Tilas Sirnah Gali bersama masyarakat muda dari Surabaya Simorejo. Mereka menggelar rangkaian kegiatan seperti doa bersama, pembacaan Surat Yasin, serta istigosah di area pemakaman sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada para waliyullah yang berjasa dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah tersebut.
Kawasan Segoropuro sendiri memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari sosok ulama kharismatik, Mbah Sayyid Arif. Ia diketahui berasal dari Kota Makkah dan tiba di wilayah tersebut sekitar tahun 1520, saat kondisi Segoropuro masih berupa hutan belantara yang berbatasan langsung dengan laut.
Sebelum menetap, Mbah Sayyid Arif bersama saudaranya, Mbah Sayyid Sulaiman, menimba ilmu agama di bawah bimbingan Mbah Soleh di Winongan, Pasuruan. Dalam perjalanan tersebut, sang guru menyaksikan pancaran cahaya dari keduanya, yang diyakini sebagai tanda bahwa mereka memiliki peran besar dalam dakwah Islam.
Keduanya juga tercatat berperan dalam perjuangan melawan penjajahan Portugis di Pasuruan. Setelah menikah dengan putri Mbah Soleh, Mbah Sayyid Arif mendapat amanah untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Segoropuro, sementara Mbah Sayyid Sulaiman mendirikan Pondok Pesantren Sidogiri.
Di Segoropuro, Mbah Sayyid Arif mendirikan padepokan untuk mengajar para santri. Namun, aktivitas tersebut sempat terganggu oleh suara ombak laut yang sangat dekat dengan lokasi. Melalui doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan, terjadi peristiwa luar biasa di mana garis pantai bergeser hingga sekitar dua kilometer dari lokasi padepokan.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi cikal bakal nama Segoropuro, yang berasal dari ungkapan permohonan ampun “segera jaluk pangapuro” yang diucapkan oleh Mbah Sayyid Arif karena merasa telah mengubah ciptaan Allah SWT.
Selain makam Mbah Sayyid Arif, kawasan ini juga menjadi tempat peristirahatan sejumlah waliyullah lainnya. Di antaranya makam Mbah Sayyid Abdurrahman yang memiliki pohon besar berusia ratusan tahun di tengah area makam, makam Mbah Kendil Wesi atau Mbah Soleh yang dikenal dengan karomahnya meski memiliki peran sederhana, serta makam Mbah Embo yang dikenal sebagai tabib dengan kemampuan memahami bahasa hewan.
Kegiatan napak tilas dan ziarah ini diharapkan tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga memperkenalkan sejarah panjang penyebaran Islam di Pasuruan kepada generasi muda, sekaligus menjaga warisan budaya religi yang ada di Desa Segoropuro.













