Makam di Tengah Bong Cina: Napak Tilas Tim Religi Sirnah Gali Temukan Jejak Kyai Legendaris dari Pasuruan

Avatar photo

RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Perjalanan spiritual tim religi Sirnah Gali memasuki babak baru yang penuh makna. Kali ini, Minggu (18/5/2025) langkah mereka menapaki jejak-jejak sejarah Islam di sebuah lokasi tak biasa—kompleks makam kuno Tionghoa, atau Bong Cina, yang berada di kawasan Simo Gunung Kramat, arah jalan menuju Duku Kupang, Surabaya.

Di tengah-tengah deretan makam kuno tersebut, tersembunyi sebuah makam yang menyimpan kisah besar: makam Kyai Abdul Djalal bin Djaenal Abidin, seorang tokoh penyebar Islam karismatik yang berasal dari Tambak Lekok, Pasuruan.

Kyai Djalal dikenal sebagai ulama yang menyebarkan agama Islam melalui pendekatan dagang. Dalam sejarah lisan masyarakat, beliau melakukan perjalanan dari Pasuruan hingga ke Surabaya dengan menjual seronjot batang tebu, menyampaikan dakwah dengan cara yang lembut, tulus, dan penuh kasih sayang.

Baca Juga :  17 Bangunan Liar di Cibinong Dibongkar, Termasuk Posko Ormas

Salah satu titik penting dari perjalanan spiritual beliau adalah makam Mbah Karimah, yang dikenal sebagai Ibunya Para Wali, di Kembang Kuning, Surabaya. Dari sana, beliau melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Simo Gunung Kramat, tepat di tengah kompleks Bong Cina—sebuah simbol harmoni antara sejarah dan spiritualitas.

Hari ini, tim Sirnah Gali menggelar istigosah bersama di makam Kyai Djalal. Mereka berdoa, mengenang perjuangan dakwah sang kyai, dan menyampaikan pesan moral kepada para peziarah.

Baca Juga :  Mentan Apresiasi Kerja Cepat Polda Riau Bongkar Praktik Beras Oplosan

Sebuah pesan yang diyakini berasal dari Kyai Djalal menggema di antara jamaah:

“Jagalah wudhumu, berdoalah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Mintalah hanya kepada Allah SWT.”

Makam ini kini menjadi salah satu titik ziarah yang ramai dikunjungi. Banyak orang datang untuk berdoa, memohon petunjuk, atau sekadar mencari ketenangan batin. Lokasinya yang unik, berada di tengah makam Tionghoa kuno, menjadikan situs ini bukan hanya sebagai tempat religius, tapi juga simbol persatuan dan toleransi antar budaya.

Napak tilas ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur perjuangan para penyebar Islam di Nusantara. Dan Kyai Djalal adalah satu dari sedikit tokoh yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.

Baca Juga :  Pendiri LBH Mawar Saron Hotma Sitompul Tutup Usia

 

 

 

Penulis: Didik Djatmiko Editor: Tama