RADARTERKINI.ID | GRESIK – Tim religi “Kali Ini” melakukan kegiatan napak tilas sejarah Islam pada Kamis (8/5/2025) dengan mengunjungi makam Nyai Ageng Pinatih di Desa Bedilan, Kelurahan Kebungson, Gresik. Terletak tidak jauh dari alun-alun Kota Gresik, makam ini menjadi salah satu situs penting yang menyimpan jejak perjuangan seorang tokoh perempuan dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Dalam suasana khidmat, tim “Kali Ini” menyusuri kompleks makam, mendengarkan penuturan sejarah dari juru kunci, serta menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Nyai Ageng Pinatih. Napak tilas ini menjadi momentum untuk merenungi peran besar perempuan dalam sejarah dakwah Islam, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa.
Nyai Ageng Pinatih dikenal sebagai saudagar kaya raya yang sangat dihormati oleh para raja pada masa Majapahit. Ia memiliki peran besar dalam menyebarkan Islam di Gresik dan sekitarnya. Beliau juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Nyai Ageng Samboja, Nyai Ageng Maloka, dan Nyai Tandes. Nama “Samboja” diyakini berasal dari “Kamboja,” sedangkan “Pinatih” menyerupai gelar “Patih” dalam sistem pemerintahan kala itu.
Salah satu kisah paling masyhur adalah perannya sebagai ibu angkat dari Sunan Giri, atau Raden Paku. Bayi laki-laki yang kelak menjadi Wali Songo itu ditemukan oleh anak buah Nyai Ageng Pinatih saat terapung di tengah laut, di kawasan Blambangan (kini Banyuwangi). Karena ditemukan di lautan, bayi itu diberi nama Jaka Samudra. Nyai Ageng Pinatih kemudian mengasuhnya hingga dewasa dan di titipkan ke sunan Ampel untuk menimba ilmu disana
Napak tilas ini bukan hanya menjadi perjalanan fisik, melainkan juga spiritual, yang memperkuat kesadaran akan pentingnya mengenal dan melestarikan sejarah lokal. Tim “Kali Ini” berharap kegiatan ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih menghargai kontribusi tokoh-tokoh terdahulu, terutama sosok perempuan seperti Nyai Ageng Pinatih yang berani, cerdas, dan penuh kasih dalam menyebarkan nilai-nilai Islam.













