RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Mengawali tahun 2026, Tim Napak Tilas Sirnah Gali bersama awak media ibukota kembali menyusuri jejak sejarah spiritual dengan mengunjungi makam Sunan Bungkul atau Ki Ageng Bungkul (Ki Supo), Jumat (2/1/2026).
Kegiatan napak tilas tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Napak Tilas Sirnah Gali, Didik Djatmiko, yang didampingi Ketua Pokja PWI Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Erfan Pratama. Kegiatan ini menjadi refleksi awal tahun sekaligus upaya menjaga nilai sejarah dan spiritual tokoh besar penyebar Islam di tanah Jawa.
Tempat ziarah ini dikenal sangat dirindukan oleh kalangan yang memiliki jiwa besar dalam pencarian spiritual. Langkah demi langkah menyusuri kawasan makam menjadi simbol perjalanan menapak jejak sejarah yang tetap hidup, meski tergilas oleh zaman dan waktu.
Menurut Tim Napak Tilas Sirnah Gali, Sunan Bungkul merupakan sosok yang sangat berkarisma dan berwibawa. Karakter tersebut membuat masyarakat memberikan gelar “Sunan” kepada Ki Ageng Bungkul yang juga dikenal dengan nama Ki Supo.
Berdasarkan kisah sejarah, Ki Ageng Bungkul adalah bangsawan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Brawijaya V. Ia memilih melepaskan kebangsawanannya demi menyebarkan ajaran Islam. Selain sebagai tokoh spiritual yang bijaksana, Sunan Bungkul juga dikenal sebagai ahli pembuat benda pusaka.
Sejumlah keris legendaris seperti Keris Kyai Naga Sasra dan Keris Kyai Sengkelat diyakini merupakan karya Sunan Bungkul. Lekukan bilah keris memperlihatkan pijatan jari jemari pembuatnya yang sarat nilai seni, filosofi, dan spiritualitas. Selain keris, berbagai tombak pusaka juga disebut sebagai hasil karyanya.
Di area makam Sunan Bungkul juga terdapat makam tokoh-tokoh penting lain yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam, di antaranya makam Nyai Ageng Bungkul, Tumenggung Jang Rono, Sedo Rono, Abu Serah, Cangah Bogopati, Bupati Janggut, serta Kyai Sudin dan Kyai Kardi yang merupakan murid sekaligus empat juru kunci makam.
Dikisahkan pula bahwa Jang Rono, murid Sunan Bungkul, pernah menjabat sebagai bupati pertama di Surabaya dan berperan menjadikan Surabaya sebagai sentral penyebaran Islam pada masanya.
Rangkaian kegiatan napak tilas ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan kepada Allah SWT, sebagai wujud rasa syukur dan harapan agar nilai sejarah serta spiritual para leluhur terus terjaga dan menjadi pijakan dalam menapaki langkah di awal tahun 2026.













