Art Sura 2025: 9 Hari Penuh Pesona Seni Rupa di Jantung Surakarta

Avatar photo

RADARTERKINI.ID | SURAKARTA – Mengusung tema “Wedangan, Rindu, dan Kenangan”, ART SURA 2025 by La Palapa: Indonesia Art Summit, sukses besar mengguncang panggung seni nasional dan internasional. Digelar selama sembilan hari di Surakarta, acara ini menarik lebih dari 10.000 pengunjung dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, hingga mancanegara seperti Amerika Serikat, Brazil, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura.

ART SURA 2025 bukan sekadar pameran seni rupa dan digital, melainkan ruang kolaboratif yang memungkinkan pengunjung menyentuh, merasakan, dan masuk ke dalam dunia seni secara interaktif—mulai dari karya fisik, digital, hingga eksplorasi virtual dengan VR dan AR.

Pameran ini menghadirkan karya 172 seniman dengan lebih dari 300 karya, termasuk nama-nama besar seperti Ni Nyoman Sani, Bernandi Desanda (Berbrain), Apel Hendrawan, Onar Bermano, dan Gigih Wiyono. Tak ketinggalan karya eksperimental dari Peter Rhian, fashion interaktif oleh Vonazsar, serta NFT dan AI Art dari The Collective Solutions dan IDNFT.

Baca Juga :  Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gelar Upacara Kenaikan Pangkat dan Pemberian Penghargaan kepada Personel Berprestasi dan Warga Masyarakat

Salah satu sorotan utama adalah lukisan mendiang Maestro Made Wianta yang dihidupkan melalui teknologi Virtual Reality. Pengunjung diajak “berseluncur” ke dalam lukisan The Flying Triangle, pengalaman imersif yang jarang ditemukan di Indonesia.

Di samping karya visual, pertunjukan tari Sus Scrofa: The Human Boar, Tari Bambangan Cakil, hingga pementasan wayang kulit kontemporer oleh Dalang Muda Ki Amar Pradopo menambah kekayaan budaya dalam ART SURA 2025.

Dalam acara penutupan yang berlangsung di Taman Balekambang, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyampaikan monolog penuh makna, “Kami tidak sedang membuat festival. Kami sedang membangun ingatan bersama. ART SURA adalah nafas seni rupa dan budaya yang lahir dari Kota Surakarta.”

Baca Juga :  Sinergi TNI-Polri! Danlanal Sibolga dan Forkopimda Latihan Menembak Bareng

Tak hanya seniman dan masyarakat, kehadiran tokoh-tokoh nasional seperti Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, seniman Bill Mohdor, Ketua Asosiasi Kreator Helmy Yahya, hingga Menparekraf Teuku Riefky Harsya, menunjukkan besarnya dukungan terhadap ART SURA.

Direktur ART SURA, Adrian Zakhary menegaskan bahwa langkah ke depan adalah menjadikan ART SURA sebagai IP seni yang hidup di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai festival tahunan tetapi juga sebagai gerakan budaya nasional yang menyatukan teknologi, tradisi, dan kreativitas anak bangsa.

Program ART SURA tersebar di berbagai titik di Surakarta seperti Museum Radya Pustaka, Lokananta, Museum Keris, Headroom Coffee, hingga Rumah Budaya Kratonan. Bahkan kolaborasi dengan Pura Mangkunegaran menghasilkan momen eksklusif seperti Royal Heritage Dinner bersama kolektor seni internasional.

Baca Juga :  Panglima TNI Perintahkan Pengamanan Kejaksaan, Langkah Ini Tuai Kontroversi

Dengan penutupan ART SURA 2025, Surakarta tak hanya menjadi tuan rumah perhelatan seni terbesar tahun ini, tetapi juga resmi menancapkan dirinya sebagai episentrum baru seni rupa dan budaya Nusantara.

 

 

 

Penulis: Car-d Editor: Tama