Jejak Ki Ageng Selo Ditelusuri Napak Tilas Sirnah Gali

Rombongan kegiatan Napak Tilas Sirnah Gali melaksanakan perjalanan ziarah sekaligus penelusuran sejarah ke Kompleks Makam Ki Ageng Selo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).

RADARTERKINI.ID | GROBOGAN — Rombongan kegiatan Napak Tilas Sirnah Gali melaksanakan perjalanan ziarah sekaligus penelusuran sejarah ke Kompleks Makam Ki Ageng Selo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menelusuri jejak sejarah, peninggalan leluhur, serta nilai-nilai dakwah Islam yang berkembang di tanah Jawa. Rombongan mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh semangat dan penghormatan terhadap sejarah para leluhur yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan panjang peradaban Jawa.

Ki Ageng Selo dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah babad tanah Jawa. Sosoknya tercatat dalam berbagai kisah dan karya sejarah sebagai tokoh yang memiliki keilmuan, kearifan, serta keteguhan dalam menyebarkan syiar Islam, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Salah satu kisah yang paling dikenal masyarakat adalah legenda mengenai kemampuan Ki Ageng Selo menaklukkan petir, yang secara lokal dikenal dengan sebutan bledek.

Dalam kisah yang berkembang secara turun-temurun, Ki Ageng Selo disebut pernah berada di tengah areal persawahan ketika petir menyambar berkali-kali tepat di atas kepalanya. Dengan ketabahan dan ilmu yang dimilikinya, ia dipercaya berhasil “menangkap” sambaran petir tersebut dan mengikatnya pada sebatang pohon gandri yang berada tidak jauh dari lokasi pemakamannya.

Baca Juga :  GPIB SELENGGARAKAN ACARA DONOR DARAH, AJAK MASYARAKAT BERKONTRIBUSI UNTUK SESAMA

Menurut cerita yang diyakini sebagian masyarakat setempat, petir tersebut bukan sekadar fenomena alam, melainkan digambarkan sebagai wujud makhluk Allah yang datang untuk menguji kesabaran dan keteguhan Ki Ageng Selo.

Hingga kini, benda yang diyakini masyarakat sebagai peninggalan dari kisah petir tersebut disebut masih disimpan di area makam. Keberadaan peninggalan itu menjadi salah satu daya tarik bagi peziarah dari berbagai daerah yang datang untuk menyaksikan sekaligus mengenang kisah sejarah dan tradisi yang berkembang di sekitar sosok Ki Ageng Selo.

Terhubung dengan Silsilah Majapahit dan Mataram Islam

Selain kisah mengenai petir, Ki Ageng Selo juga memiliki posisi penting dalam narasi sejarah dan silsilah Jawa. Berdasarkan silsilah yang berkembang, garis keturunan Ki Ageng Selo disebut bersambung dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Baca Juga :  Napak Tilas Sirnah Gali Ungkap Jejak Spiritual Makam Mbah Buyut Djalaludin

Dalam silsilah tersebut, Prabu Brawijaya V disebut memiliki putra bernama Bondan Kejawan dari seorang selir bernama Wadan Kuning. Setelah dewasa, Bondan Kejawan kemudian diambil menantu oleh Ki Ageng Tarub dan dinikahkan dengan Dewi Nawangsih.

Dari perkawinan tersebut lahir Ki Ageng Getas Pandowo yang kemudian memiliki beberapa orang putra, salah satunya adalah Ki Ageng Selo.

Rangkaian silsilah tersebut menggambarkan adanya kesinambungan sejarah antara masa Kerajaan Majapahit dengan perkembangan Kesultanan Mataram Islam. Dalam konteks tersebut, Ki Ageng Selo ditempatkan sebagai salah satu tokoh yang menghubungkan perjalanan dua periode penting dalam sejarah peradaban Jawa.

Diisi Doa Bersama dan Istighotsah

Tidak hanya melakukan ziarah dan penelusuran sejarah, rombongan Napak Tilas Sirnah Gali juga menggelar doa bersama, tawasul, serta istighotsah di kompleks makam Ki Ageng Selo.

Rangkaian doa tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus memohon perlindungan dan keberkahan dalam perjalanan napak tilas.

Baca Juga :  PWI Jaya Gelar OKK 2025: Cetak Wartawan Beretika dan Berintegritas

Melalui kegiatan tersebut, rombongan berharap nilai-nilai luhur, sejarah perjuangan para leluhur, serta jejak syiar Islam yang pernah berkembang di tanah Jawa tetap terjaga dan tidak terputus.

Napak Tilas Sirnah Gali juga menjadi momentum untuk mengingatkan generasi saat ini bahwa warisan sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bagian dari identitas dan perjalanan panjang masyarakat Jawa yang patut dipelajari, dihargai, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Napak Tilas Sirnah Gali — Melestarikan Sejarah, Menghargai Warisan Leluhur.