Buku “Dosa-Dosa Besar” Beredar di Muktamar NU, Muktamirin Soroti Dugaan Kampanye Hitam

Buku “Dosa-Dosa Besar”

RADARTERKINI.ID | JOMBANG — Menjelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sebuah buku berjudul “Dosa-dosa Besar Kepemimpinan PBNU Periode 2021–2026: Mengapa Kita Harus Memilih Pemimpin Baru PBNU di Abad ke-2” beredar di arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Beredarnya buku tersebut pada Sabtu (29/8/2026) memicu respons sejumlah muktamirin dan pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Mereka menilai materi yang berisi kritik keras terhadap kepemimpinan PBNU periode 2021–2026 itu berpotensi memperkeruh suasana menjelang proses pemilihan kepemimpinan baru.

Buku tersebut mencantumkan nama Forum Kedaulatan Warga Nahdliyin sebagai pihak penerbit. Isinya memuat berbagai kritik terhadap kepemimpinan PBNU periode 2021–2026 dengan narasi yang menyinggung persoalan kekuasaan, politik, ideologi, hubungan internasional, hingga sejumlah tokoh dan jaringan tertentu.

Salah satu bagian dalam daftar isi buku menggunakan judul “Nafsu Kuasa Otoriter dan Sentralistik (Markaziyah): Pudarnya Musyawarah, Rontoknya Ukhuwah Nahdliyah” yang tercantum pada halaman 40.

Selain itu, terdapat pula tulisan berjudul “Jebakan Nafsu Duniawi Kongsi Tambang: Mirip Syahwat Serigala Berebut Daging” pada halaman 52.

Narasi yang lebih keras muncul dalam bagian berjudul “Pelanggaran Nyata Khittah NU”. Dalam bagian tersebut, buku memuat sejumlah tudingan terkait kepemimpinan PBNU hasil Muktamar Lampung, termasuk narasi mengenai kelompok agama ekstrem kanan serta jejaring sejumlah tokoh asing dan kelompok yang dikaitkan dengan ekstremisme maupun pro-Zionisme.

Baca Juga :  "Seleksi Sopir Jaklingko Disorot Usai Kecelakaan, Pemprov DKI Siap Lakukan Evaluasi Total"

Sejumlah judul lain yang tercantum dalam buku itu antara lain “Jejaring Global Holland Taylor di Kalangan Kelompok Ekstrem Kanan”, “Gurita Holland Taylor di PBNU: Memberi Panggung Kelompok Agama Fundamentalis Kanan hingga Cuci Otak Warga Nahdliyin”, serta “Jaringan Pro-Zionis Israel di PBNU dan Pengkhianatan atas Khittah NU yang Mendukung Perjuangan Rakyat Palestina.”

Buku tersebut juga memuat tulisan berjudul “Peter Berkowitz dan Kaderisasi Elit PBNU” serta “Kaum Ekstrem Kanan India Menunggangi PBNU untuk Tujuan Politik Anti-Muslim”. Ada pula pembahasan yang mengaitkan dinamika politik Hungaria dengan situasi internal Nahdlatul Ulama.

PCNU Soroti Cara Penyebaran Kritik

Beredarnya buku itu kemudian mendapat sorotan dari sejumlah peserta Muktamar. Salah seorang pengurus PCNU di Jawa Barat menyayangkan munculnya materi bernada keras di tengah forum tertinggi organisasi NU.

Menurutnya, kritik terhadap kepemimpinan merupakan bagian yang wajar dalam dinamika organisasi. Namun, kritik seharusnya disampaikan melalui mekanisme yang tepat dan tetap menjunjung tinggi tradisi adab, tabayun, musyawarah, serta penghormatan terhadap sesama warga Nahdliyin.

Baca Juga :  Muktamar NU: Gus Yahya Tegaskan Aturan Usulan AHWA

“Para muktamirin mengecam pelaku kampanye hitam dalam pemilihan Ketua PBNU. Cara-cara seperti itu bukan ciri khas NU dan para santri maupun kiai. Tidak berakhlak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU seharusnya menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan dan visi mengenai masa depan organisasi, bukan menjadi arena untuk saling menyerang.

Menurutnya, warga NU memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah dan tabayun.

“Kalau memang ada kritik terhadap kepemimpinan PBNU, sampaikan melalui forum yang sesuai dan dengan cara-cara yang bermartabat,” ujarnya.

Jelang Pemilihan Ketua Umum PBNU

Beredarnya buku tersebut menjadi salah satu dinamika yang muncul menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.

Kontestasi kepemimpinan menjadi perhatian besar para muktamirin karena hasil Muktamar akan menentukan arah perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama pada periode berikutnya.

Sejumlah peserta berharap seluruh proses Muktamar dan pemilihan Ketua Umum PBNU dapat berjalan secara damai, jujur, terbuka, serta menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Muktamar sebagai forum tertinggi organisasi tidak hanya menjadi tempat menentukan kepemimpinan baru, tetapi juga menjadi ruang untuk membahas arah, kebijakan, dan masa depan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga :  Patroli KRYD Penjaringan Sita 4 Motor Tanpa Surat, Tawuran Nihil

Karena itu, perbedaan pandangan dan pilihan diharapkan tidak berkembang menjadi konflik yang dapat mengganggu persatuan warga Nahdliyin.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam buku tersebut terkait berbagai tudingan yang dimuat di dalamnya.

Para muktamirin pun diharapkan tetap menyikapi setiap informasi secara kritis dan tidak langsung mempercayai berbagai tudingan yang beredar tanpa proses klarifikasi.

Tabayun dinilai menjadi langkah penting agar dinamika menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU tidak berkembang menjadi persoalan yang memperuncing konflik internal organisasi.

Dengan demikian, Muktamar ke-35 NU di Jombang diharapkan tetap berjalan dalam suasana kondusif dan mampu menghasilkan keputusan terbaik bagi perjalanan Nahdlatul Ulama di masa mendatang.