Muktamar NU Dongkrak Peziarah Makam Gus Dur

Memasuki hari kedua pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jumat (28/8/2026), ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah terus berdatangan ke Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

RADARTERKINI.ID | JOMBANG — Memasuki hari kedua pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jumat (28/8/2026), ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah terus berdatangan ke Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Tak hanya mengikuti rangkaian agenda muktamar, banyak muktamirin juga memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan ziarah ke Makam Masyayikh Pondok Pesantren Tebuireng, tempat sejumlah tokoh besar Nahdlatul Ulama dimakamkan.

Meningkatnya jumlah peziarah dirasakan langsung oleh para petugas makam. Muhammad Ali Bahrudin, salah seorang petugas Makam Masyayikh Tebuireng yang telah bertugas selama sekitar satu setengah tahun, mengatakan jumlah pengunjung mengalami peningkatan signifikan sejak Muktamar ke-35 NU dimulai.

“Pada momentum Muktamar seperti sekarang, jumlah peziarah yang datang dalam sehari kurang lebih bisa mencapai 500 hingga 1.000 orang,” kata Muhammad Ali Bahrudin saat ditemui di kawasan Makam Masyayikh Tebuireng, Jumat (28/8/2026), didampingi Ajib.

Menurut Ali, sebagian besar peziarah yang datang merupakan warga Nahdliyin dan peserta Muktamar ke-35 NU yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka tidak hanya datang dari Pulau Jawa, tetapi juga dari wilayah yang cukup jauh, seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Banyaknya peziarah dari luar daerah dapat terlihat dari pertanyaan yang sering disampaikan kepada petugas makam. Sebagian dari mereka masih mencari lokasi makam para tokoh dan ulama besar yang dimakamkan di kawasan Tebuireng.

Baca Juga :  Usai Hadiri KTT ASEAN di Filipina, Prabowo Langsung Kunker ke Miangas

“Banyak yang bertanya makam Mbah Hasyim di sebelah mana dan makam Gus Dur yang mana. Dari situ kami mengetahui bahwa banyak di antara mereka yang baru pertama kali datang dan berziarah ke sini,” ujarnya.

Untuk memberikan pelayanan kepada para peziarah selama Muktamar ke-35 NU berlangsung, pengelola Makam Masyayikh Tebuireng menerapkan kebijakan khusus terkait waktu kunjungan.

Ali mengatakan, berdasarkan kebijakan penanggung jawab kawasan makam, Gus Reza Yusuf, Makam Masyayikh Tebuireng dibuka selama 24 jam selama momentum Muktamar ke-35 NU.

Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak 27 Agustus dan berlangsung hingga 31 Agustus 2026, sehingga para muktamirin dan peziarah dari berbagai daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk datang dan berziarah.

Menurut Ali, kebijakan pembukaan selama 24 jam itu dilakukan mengingat tingginya jumlah warga yang datang ke Jombang selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

Selain sebagai tempat ziarah, Makam Masyayikh Tebuireng juga memiliki nilai sejarah yang kuat dalam perjalanan Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Dugaan Perselingkuhan Dilaporkan ke Polres Jakpus

Kawasan tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir keluarga Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, mulai dari putra, putri, cucu hingga cicit beliau. Sejumlah santri dan tokoh yang memiliki hubungan dengan Pesantren Tebuireng juga dimakamkan di kawasan tersebut.

Salah satu tokoh nasional yang dimakamkan di sana adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia sekaligus cucu KH Hasyim Asy’ari.

Keberadaan makam para ulama dan tokoh bangsa tersebut menjadikan Tebuireng sebagai salah satu tujuan utama warga Nahdliyin yang datang ke Jombang, terutama saat berlangsungnya Muktamar ke-35 NU.

Bagi para peziarah, kunjungan ke Makam Masyayikh bukan sekadar perjalanan menuju tempat bersejarah, melainkan juga menjadi bagian dari perjalanan spiritual untuk mengenang perjuangan para ulama pendahulu serta mendoakan mereka.

Ali berharap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dapat membawa dampak positif bagi perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Menurutnya, muktamar harus menjadi momentum bagi NU untuk terus melakukan pembenahan dan menentukan arah organisasi yang semakin baik pada masa mendatang.

“Harapan kami, Muktamar ini menjadi langkah bagi Nahdlatul Ulama untuk semakin maju dan semakin baik ke depannya. NU harus terus berbenah sebagai organisasi umat Islam yang besar,” katanya.

Baca Juga :  Ratusan Jak Mania Kemayoran Padati JIS, Dukung Persija Raih Poin Tiga

Ia juga berharap Muktamar ke-35 NU mampu melahirkan kepemimpinan yang tepat dan membawa kemajuan bagi organisasi serta memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.

“Semoga NU dipimpin oleh pemimpin yang tepat, yang mampu memajukan organisasi dan membawa kebaikan bagi umat,” pungkasnya.

Di tengah padatnya agenda Muktamar ke-35 NU di Jombang, Makam Masyayikh Tebuireng pun menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi warga Nahdliyin.

Arus peziarah dari berbagai penjuru Indonesia menjadi gambaran bahwa perjalanan spiritual, sejarah perjuangan ulama, dan masa depan Nahdlatul Ulama masih memiliki ikatan kuat dalam momentum Muktamar ke-35 NU.