KH Yahya: NU dan Pemerintah Harus Bersinergi untuk Rakyat

Sidang Pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026),

RADARTERKINI.ID | JOMBANG — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan pentingnya sinergi antara Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

Penegasan itu disampaikan KH Yahya saat memberikan sambutan dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Kamis (27/8/2026).

Dalam acara tersebut, KH Yahya menyampaikan pandangannya di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran menteri Kabinet, para ulama, serta ribuan delegasi NU dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, Muktamar ke-35 menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama untuk kembali meneguhkan arah perjuangan organisasi di tengah besarnya tanggung jawab yang dipikul NU sebagai organisasi dengan basis warga yang sangat besar.

KH Yahya menyebut, kekuatan sosial NU tercermin dari jumlah warganya yang mencapai sekitar 57 persen dari total penduduk muslim di Indonesia.

“Warga Nahdlatul Ulama di Indonesia ini jumlahnya kira-kira 57 persen dari seluruh penduduk muslim di Indonesia,” kata KH Yahya.

Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai sekitar 244 juta jiwa, KH Yahya memperkirakan jumlah warga NU mencapai lebih dari 120 juta orang.

Baca Juga :  Kapolri Dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Penasihat di Rapimnas KSPSI AGN 2025

Menurut dia, besarnya jumlah warga tersebut bukan hanya menunjukkan kekuatan NU, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab besar yang harus dijalankan oleh seluruh jajaran organisasi.

“Ini adalah konstituensi yang sangat besar dan sekaligus tanggung jawab yang luar biasa besar,” ujarnya.

Karena itu, PBNU menilai NU tidak dapat bekerja sendiri dalam menjalankan berbagai ikhtiar untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Salah satu langkah yang harus diperkuat adalah membangun kerja sama dan koordinasi dengan pemerintah.

“Tidak ada jalan lain bahwa organisasi ini harus bekerja sama dengan pemerintah,” tegas KH Yahya.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut bukan berarti sekadar membangun hubungan formal antara NU dan pemerintah. Lebih dari itu, sinergi harus diarahkan agar berbagai program dan agenda pemerintah dapat benar-benar memberikan manfaat kepada rakyat.

Dalam konteks tersebut, para pengurus dan kader NU diharapkan terus meningkatkan kapasitas dan kinerjanya sehingga mampu menjadi penghubung yang efektif antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

“Bagaimana ke depan para pengurus NU dapat dikembangkan kinerjanya, dikembangkan kapasitasnya, sehingga akan menjadi penghantar yang lebih efektif dalam membantu membawakan manfaat dari program-program dan agenda pemerintah untuk rakyat kepada rakyat,” tuturnya.

Baca Juga :  Awalindo Law Firm Bogor Gelar Halal Bihalal, Tegaskan Komitmen Profesionalisme dan Integritas

Meski demikian, KH Yahya menegaskan bahwa peran NU tidak hanya sebatas menjadi mitra pemerintah. NU juga memiliki tugas untuk memperkuat kehidupan sosial masyarakat dan menjaga kekuatan bangsa melalui prinsip ta’awun atau saling tolong-menolong.

Ia mengingatkan bahwa semangat ta’awun merupakan salah satu prinsip penting yang diwariskan para pendiri NU.

KH Yahya merujuk pemikiran KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi NU, yang menempatkan semangat saling membantu sebagai dasar dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, prinsip tersebut mengajarkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak semata-mata dibangun melalui kekuasaan, melainkan melalui kemampuan seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama demi kepentingan bersama.

“Semua orang berpikir tentang kerja sama, tolong-menolong untuk kepentingan bersama, untuk kekuatan bersama, untuk kemuliaan bersama,” kata KH Yahya.

Atas dasar itu, ia berharap Muktamar ke-35 NU di Tambakberas tidak hanya menjadi agenda organisasi untuk menentukan kepemimpinan dan merumuskan kebijakan baru.

Muktamar tersebut, menurutnya, harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat kebersamaan dan ta’awun, tidak hanya di lingkungan warga NU, tetapi juga di tengah seluruh elemen bangsa.

“Bukan hanya warga Nahdlatul Ulama saja,” ujarnya.

KH Yahya berharap semangat kerja sama dan saling membantu dapat menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan.

Baca Juga :  Pimpinan Komisi III DPR Dukung Kakorlantas soal Sirene: Langkah Positif

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ia juga berharap pembukaan Muktamar ke-35 NU membawa keberkahan bagi organisasi, pemerintah, dan seluruh rakyat Indonesia.

“Kami berharap Bapak Presiden membuka Muktamar ini dan mudah-mudahan menjadi berkah kita semua,” pungkasnya.

Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjadi momentum strategis untuk menentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama ke depan.

Melalui pesan tentang pentingnya sinergi dengan pemerintah dan penguatan semangat ta’awun, KH Yahya menegaskan bahwa besarnya NU harus diwujudkan dalam tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi kekuatan sosial, menghadirkan manfaat bagi rakyat, serta ikut menopang kehidupan bangsa dan negara.