RADARTERKINI ID | GRESIK – Suasana hangat pasca Lebaran menjadi momen istimewa bagi rombongan Napak Tilas Sirnah Gali saat menelusuri jejak sejarah di Desa Tulung Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (27/3/2026). Kegiatan ini berlangsung dengan menyusuri jalur pedesaan yang tenang, menuju sebuah rumah kuno milik Ki Ageng Sentot, sosok yang dikenal masyarakat setempat sebagai Putra Agung.
Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Rombongan membawa dua tujuan utama, yakni mempererat silaturahmi di momen hari raya serta menggali sejarah lokal yang selama ini hidup dari cerita turun-temurun. Tulung Kedamean dipilih karena diyakini menyimpan jejak penting masa lalu yang belum banyak terdokumentasikan secara luas.
Sesampainya di lokasi, rombongan disambut bangunan rumah kuno berbahan kayu jati yang masih kokoh berdiri. Seluruh struktur rumah menunjukkan kualitas tinggi material masa lampau, lengkap dengan ukiran-ukiran bernilai filosofis di setiap sudutnya. Rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi simbol warisan budaya dan seni arsitektur tradisional Jawa yang tetap terjaga.
Di dalam rumah, perhatian tertuju pada koleksi lampu hias kuno yang tersimpan rapi dan menggantung di beberapa bagian ruangan. Lampu berbahan kaca, kuningan, hingga keramik tersebut menjadi saksi perjalanan generasi keluarga, sekaligus memperkuat nuansa historis yang terasa kental di dalam bangunan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Ki Ageng Sentot menjelaskan sejarah asal-usul Desa Tulung Kedamean. Ia menyebutkan bahwa nama “Damean” memiliki arti kediaman atau tempat menetap. Penamaan ini berkaitan dengan peristiwa masa lalu ketika wilayah tersebut menjadi tempat singgah para punggawa Kerajaan Majapahit.
Menurut penuturannya, para punggawa Majapahit datang ke kawasan ini dalam misi penting untuk menelusuri keberadaan makam Siti Fatimah binti Maimun, yang kini dikenal sebagai Makam Panjang Leran. Kehadiran mereka menjadikan Tulung Kedamean sebagai lokasi strategis, baik sebagai tempat persinggahan maupun pusat aktivitas dalam menjalankan tugas tersebut.
Jejak sejarah inilah yang diyakini masih melekat kuat di setiap sudut desa. Tulung Kedamean tidak hanya menjadi permukiman warga, tetapi juga menyimpan nilai historis yang tinggi sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban di tanah Jawa.
Kegiatan Napak Tilas Sirnah Gali ini pun ditutup dengan penuh rasa syukur. Selain mempererat hubungan sosial, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi upaya nyata dalam melestarikan sejarah lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Melalui silaturahmi dan penelusuran langsung ke sumber sejarah, generasi masa kini diajak untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budaya yang ada.
Dengan segala keunikannya, Tulung Kedamean tetap berdiri sebagai penjaga memori masa lalu yang kaya nilai dan makna, sekaligus menjadi pengingat pentingnya merawat sejarah untuk generasi mendatang.













