RADARTERKINI.ID | JAKARTA – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan tegas terkait eskalasi konflik yang melibatkan negaranya. Dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026), ia mengungkapkan klaim bahwa 555 warga sipil tewas akibat serangan yang disebut menyasar fasilitas umum di Iran.
Boroujerdi menyatakan serangan tersebut mengenai rumah sakit, sekolah, dan sejumlah fasilitas sipil lainnya. Dari total korban yang diklaim, lebih dari 200 di antaranya disebut merupakan anak-anak. Ia menegaskan para korban adalah warga biasa yang tengah menjalankan aktivitas, termasuk ibadah puasa Ramadan.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap Pasal 2 Ayat 4 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial suatu negara. Ia juga merujuk Pasal 51 Piagam PBB tentang hak pembelaan diri.
“Iran memiliki hak untuk membela diri sesuai ketentuan hukum internasional,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Boroujerdi menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik serangan yang diklaim terjadi. Ia menyebut adanya dugaan penggunaan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan sebagai titik awal serangan. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Israel yang secara langsung menanggapi tudingan tersebut.
Boroujerdi juga menyinggung dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat, termasuk peristiwa 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Iran saat itu, Mohammad Mosaddegh, serta perkembangan politik yang berujung pada Revolusi Iran 1979.
Ia menyatakan serangan disebut terjadi di tengah proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Oman. Situasi itu, menurutnya, menimbulkan ketidakpercayaan terhadap komitmen diplomasi yang sedang berlangsung.
Terkait isu nuklir, Boroujerdi menegaskan fasilitas nuklir Iran berada dalam pengawasan International Atomic Energy Agency. Ia juga menyampaikan bahwa otoritas keagamaan Iran telah mengeluarkan fatwa yang melarang produksi serta penggunaan senjata pemusnah massal.
Lebih lanjut, ia menyerukan negara-negara Islam untuk menggunakan forum Organisasi Kerja Sama Islam dan PBB guna menyuarakan penolakan terhadap dugaan serangan ilegal tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi global.
Hingga saat ini, klaim jumlah korban dan rincian serangan tersebut masih menunggu verifikasi independen dari pihak internasional. Konferensi pers di Jakarta menjadi bagian dari langkah diplomasi Iran untuk menyampaikan sikap resminya di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.











