RADARTERKINI.ID | LAMONGAN – Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan keluarga besar Napak Tilas Sirnah Gali untuk melakukan perjalanan religi ke makam Sunan Drajat di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari napak tilas sejarah penyebaran Islam yang pernah dilakukan salah satu tokoh Wali Songo tersebut.
Rombongan tiba di kawasan kompleks makam yang dikenal luas sebagai salah satu destinasi ziarah penting di Jawa Timur. Area makam yang luas dan sarat nilai sejarah itu hampir tak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, terlebih saat bulan puasa.
Sunan Drajat, yang memiliki nama kecil Raden Qosim, merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Lahir di Surabaya pada tahun 1470, ia kemudian memilih wilayah Paciran, Lamongan, sebagai pusat dakwahnya. Di daerah tersebut, beliau mendirikan musholla dan pesantren sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam serta mendidik para santri.
Pada tahun 1484 Masehi, Raden Patah memberikan gelar “Sunan Mayang Madu” sekaligus menghadiahkan sebidang tanah sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan dakwahnya. Selain mengajarkan ilmu agama, Sunan Drajat juga mendorong kalangan bangsawan dan masyarakat mampu untuk menunaikan sedekah dan zakat sesuai syariat Islam.
Dalam metode dakwahnya, Sunan Drajat dikenal kreatif dengan memanfaatkan media kesenian. Ia menciptakan tembang pangkur serta mengembangkan alat musik gamelan sebagai sarana penyampaian nilai-nilai Islam yang mudah diterima masyarakat.
Pendekatan budaya ini menjadi bagian penting dari khazanah Islam Nusantara.
Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 di Paciran, dan makamnya kini menjadi salah satu pusat ziarah utama umat Muslim.
Dalam kunjungan tersebut, tim Religi Napak Tilas Sirnah Gali menggelar doa bersama di area makam. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para Waliyullah sekaligus untuk meningkatkan spiritualitas di bulan Ramadan. Doa dipanjatkan agar seluruh peserta senantiasa mendapat ridho Allah SWT serta mampu menjaga dan melestarikan warisan dakwah Islam yang telah dibangun para ulama terdahulu.













