RADARTERKINI.ID | JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Kanker Anak Internasional (HKAI) 2026, Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) menggelar kegiatan tahunan #BeraniGundul2026 di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 18.00 WIB dan menjadi bagian dari kampanye global yang diinisiasi Childhood Cancer International (CCI) dengan tema “Demonstrating Impact: From Challenge to Change.”
Peringatan HKAI yang jatuh setiap 15 Februari merupakan momentum dunia untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker anak serta memperjuangkan kesetaraan akses pengobatan. Secara global, ratusan ribu anak terdiagnosis kanker setiap tahun. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 11.000–12.000 kasus baru kanker anak per tahun, sehingga dukungan menyeluruh terhadap pasien dan keluarga menjadi sangat penting.
YKAKI yang telah hampir dua dekade mendampingi anak-anak penderita kanker dari keluarga pra-sejahtera, menjadikan peringatan ini sebagai ajang kampanye empati sekaligus penggalangan dana. Kegiatan #BeraniGundul dipilih sebagai simbol solidaritas terhadap anak-anak yang kehilangan rambut akibat kemoterapi dan radioterapi.
Di sela kegiatan, Tri Adiyaksa, relawan YKAKI yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat, menjelaskan bahwa banyak keluarga pasien dari luar daerah yang dirujuk ke rumah sakit besar di Jakarta menghadapi persoalan akomodasi selama menjalani pengobatan jangka panjang.
“Pengobatan memang ditanggung BPJS, tetapi tempat tinggal tidak. Banyak yang dulu terpaksa tinggal di selasar rumah sakit. Itu kondisi yang sangat memprihatinkan,” ujarnya kepada awak media.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, YKAKI menyediakan rumah singgah “RUMAH KITA” sebagai tempat tinggal sementara tanpa batas waktu bagi pasien dan satu orang pendamping. Saat ini fasilitas tersebut tersedia di tujuh kota, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Pekanbaru, dan Makassar.
Selain tempat tinggal, YKAKI juga menghadirkan program pendidikan gratis “SEKOLAH-KU” bagi pasien anak agar tetap mendapatkan hak belajar selama masa pengobatan yang bisa berlangsung hingga empat sampai tujuh tahun. Program ini bekerja sama dengan sekolah asal dan instansi terkait agar anak tetap bisa mengikuti kurikulum dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Di rumah singgah, setiap keluarga dikenakan kontribusi Rp5.000 per hari sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Para penghuni turut menjaga kebersihan, memasak, dan menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat. YKAKI juga membantu transportasi pasien menuju rumah sakit rujukan seperti RSCM, Dharmais, dan Fatmawati.
Tri menuturkan, suasana kebersamaan di rumah singgah sering kali menjadi sumber semangat tersendiri bagi anak-anak. Bahkan, ada keluarga dari kalangan mampu yang awalnya memilih tinggal di hotel, namun akhirnya memutuskan pindah ke rumah singgah agar anak dapat berinteraksi dengan teman-teman senasib.
“Yang paling penting bukan hanya pengobatan, tapi bagaimana anak-anak merasa bahagia dan tidak sendirian,” katanya.
Hingga Desember 2025, YKAKI telah membantu 3.967 anak dan 5.692 orangtua melalui program rumah singgah. Bantuan obat, tindakan medis non-JKN/BPJS, dan transportasi juga telah disalurkan dengan total dana mencapai Rp2,3 miliar. Program edukasi dan sosialisasi kanker anak yang dijalankan sejak 2007 pun telah menjangkau lebih dari 188.000 audiens.
Kegiatan #BeraniGundul2026 juga digelar serentak di sejumlah kota cabang dengan rangkaian acara seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, lomba anak, serta hiburan dari artis dan komunitas peduli kanker.
Melalui kegiatan ini, YKAKI mengajak masyarakat untuk turut peduli dan menyebarkan informasi kepada keluarga pasien kanker anak yang membutuhkan tempat tinggal selama menjalani pengobatan di kota rujukan.
Dengan semangat perubahan dari tantangan menjadi harapan, YKAKI menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan dukungan nyata bagi anak-anak Indonesia yang tengah berjuang melawan kanker.











