RadarTerkini.id|| Jakarta– Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum penting bagi dunia jurnalistik Indonesia untuk merenungkan arah baru di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI). Di saat media nasional masih bergulat dengan krisis ekonomi, politik, dan disrupsi digital, kehadiran AI menghadirkan paradoks: menawarkan efisiensi sekaligus menimbulkan kecemasan.
Dr. Bagus Sudarmanto, S.Sos., M.Si., Dosen Kriminologi FISIP UI sekaligus Dewan Redaksi keadilan.id, menilai bahwa tantangan terbesar jurnalisme Indonesia bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan orientasi praktik jurnalistik itu sendiri.
“AI dapat menulis berita, tetapi teknologi tidak memahami ketimpangan sosial, tidak merasakan dampak kebijakan publik, dan tidak memikul tanggung jawab etis,” ujar Bagus.
Krisis Media dan Disrupsi Algoritma
Sejak runtuhnya model bisnis media cetak dan migrasi iklan ke platform digital, redaksi kehilangan posisi dominan sebagai penjaga gerbang informasi. Fenomena gatewatching di media sosial membuat isu viral lebih menentukan agenda pemberitaan dibanding pertimbangan editorial.
Dalam kondisi ini, algoritma bekerja berdasarkan klik dan keterlibatan, bukan kepentingan publik. Tekanan ekonomi melahirkan praktik churnalism—berita instan tanpa verifikasi mendalam—yang kini berpotensi dipercepat oleh AI.
Potensi dan Risiko AI
Meski demikian, AI juga membuka peluang pragmatis bagi redaksi yang kekurangan sumber daya. Teknologi dapat membantu analisis data, penelusuran dokumen, hingga peringkasan isu kompleks. Namun, bias algoritma tetap menjadi ancaman, terutama ketika bersinggungan dengan isu politik, identitas, dan konflik sosial.
Risiko lain yang mengemuka adalah disinformasi berbasis visual dan audio. Teknologi deepfake berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik terhadap bukti digital, terutama di tengah literasi media yang belum merata dan polarisasi politik yang kuat.
Genre Baru Jurnalisme
Bagus menekankan perlunya genre baru jurnalisme yang tidak menyerahkan sepenuhnya kerja jurnalistik kepada mesin, melainkan menempatkan AI sebagai alat bantu dalam jurnalisme data, investigasi, dan verifikasi.
“Verifikasi harus menjadi identitas utama media. Dalam ekosistem informasi yang rapuh, verifikasi bukan sekadar teknik, melainkan posisi moral,” tegasnya.
Empati sebagai Pilar
Di tengah gempuran teknologi, jurnalisme Indonesia perlu kembali menegaskan sisi yang tak tergantikan oleh mesin: empati terhadap warga, keberpihakan pada kelompok rentan, dan keberanian mengawasi kekuasaan.
HPN 2026, menurut Bagus, harus menjadi refleksi kolektif untuk merumuskan arah jurnalisme Indonesia yang sadar teknologi, kuat secara etika, dan peka terhadap konteks sosial. Dengan demikian, AI tidak lagi dipandang sebagai ancaman eksistensial, melainkan sebagai alat untuk memperkuat fungsi jurnalisme sebagai ruang kritik, refleksi, dan pembentuk nalar publik di tengah demokrasi yang terus diuji.













