RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Tim Napak Tilas Sirnah Gali kembali menggelar perjalanan religi penuh makna. Kali ini, langkah mereka menelusuri sejarah spiritual di ujung pesisir utara Kota Surabaya, tepatnya di Kampung Nambagan, Kecamatan Bulak, tak jauh dari Jembatan Suramadu. Di lokasi ini terdapat sebuah makam tua yang masih terjaga hingga kini — dikenal sebagai Makam Mbah Sumbo, atau Syech Umar Sumbawa.
Makam ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang waliyullah dan saudagar kaya asal Pulau Sumbawa yang hidup sekitar tahun 1880. Kisahnya penuh pelajaran spiritual. Dalam perjalanannya menuju Madura untuk menemui Syech Syaikhona Kholil Bangkalan, beliau dikabarkan dihadang perompak dan terbunuh. Jasadnya dibuang ke laut, namun ditemukan oleh nelayan dan mengalami keanehan: tubuh beliau selalu kembali ke bibir pantai meskipun berkali-kali ditarik ke tengah laut.
Melihat fenomena tersebut, seorang nelayan melaporkan kepada KH. Hasbullah, ulama besar Surabaya sekaligus santri dari Syaikhona Kholil. KH. Hasbullah bersama warga pun memakamkan jasad tersebut secara layak. Keanehan kembali terjadi, tubuh Syech Umar mengeluarkan aroma wangi semerbak — pertanda kemuliaan akhlak beliau semasa hidup. Bahkan, KH. Hasbullah berwasiat untuk dimakamkan di samping beliau kelak.
Kini, makam Syech Umar Sumbawa menjadi tujuan ziarah banyak peziarah dari berbagai kota, termasuk dari Pulau Sumbawa. Dalam kunjungannya kali ini, Tim Napak Tilas Sirnah Gali menggelar doa bersama dan istiqosah di lokasi pemakaman, memanjatkan doa untuk para pendahulu serta bermunajat kepada Allah SWT.
Kegiatan ini bukan hanya bentuk pelestarian nilai sejarah spiritual, namun juga memperkuat tali ukhuwah antar generasi dan wilayah.













