RADARTERKINI.ID | BANTUL – Komunitas pencinta seni, budaya, dan penelusuran jejak sejarah yang menamakan dirinya Napak Tilas Sirnah Gali melaksanakan kegiatan napak tilas ke kawasan pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tepatnya di Pantai Parang Kusumo, Kabupaten Bantul, Minggu, 13 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya komunitas untuk mengenang sekaligus menelusuri jejak sejarah dan budaya leluhur yang berkembang di tanah Jawa. Pantai Parang Kusumo yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Parangtritis dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang kuat.
Dalam perjalanan tersebut, anggota komunitas menelusuri kawasan yang selama ini dikenal memiliki nuansa sakral dan erat kaitannya dengan berbagai kisah sejarah serta kepercayaan masyarakat Jawa.
Pantai Parang Kusumo tidak hanya dikenal sebagai kawasan pesisir, tetapi juga diyakini dalam tradisi dan kisah masyarakat setempat sebagai pintu gerbang gaib menuju alam Kanjeng Ratu Kidul, Penguasa Laut Selatan. Deburan ombak yang menghantam pesisir menjadi bagian dari suasana khas kawasan tersebut yang menyimpan berbagai kisah mengenai perjalanan sejarah dan peradaban tanah Jawa.
Kaitan dengan Panembahan Senopati
Pantai Parang Kusumo juga memiliki kaitan erat dengan kisah berdirinya Kerajaan Mataram Islam sebagaimana diceritakan dalam karya sastra sejarah Babad Tanah Jawi.
Dalam kisah tersebut, sebelum mendirikan kerajaannya, Panembahan Senopati atau Danang Sutawijaya disebut melakukan pertapaan di kawasan tersebut. Ia dikisahkan pertama kali bersemedi di atas Batu Gilang, kemudian berpindah ke Batu Sengker yang memiliki ukuran lebih kecil.
Selama menjalani pertapaan, dikisahkan terjadi peristiwa luar biasa. Ombak laut bergolak dengan hebat dan samudra digambarkan mengalami gejolak dahsyat. Dalam kisah tersebut, kondisi itu kemudian mempertemukan Panembahan Senopati secara rohani dengan Kanjeng Ratu Kidul beserta seluruh pasukannya.
Pertemuan tersebut kemudian dipercaya melahirkan sebuah perjanjian sakral yang berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Mataram dan para penguasa tanah Jawa.
Dalam kisah yang berkembang, Kanjeng Ratu Kidul disebut berjanji memberikan kekuasaan, wibawa, serta perlindungan gaib demi kejayaan Kerajaan Mataram, termasuk kepada para raja dan keturunannya yang memerintah di tanah Jawa.
Sebagai balasannya, para penguasa tanah Jawa diwajibkan menjaga kehormatan, menjaga keseimbangan alam, serta melestarikan tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap ikatan tersebut.
Kisah perjanjian itu kemudian dipandang sebagai simbol bahwa kekuasaan yang dimiliki seorang penguasa merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan semata-mata kekuasaan duniawi.
Karena kaitannya dengan sejarah, tradisi, dan kepercayaan masyarakat Jawa tersebut, kawasan Pantai Parang Kusumo hingga kini tetap dikenal sebagai salah satu tempat yang memiliki nilai sakral.
Peziarah Datang ke Kawasan Cempuri
Salah satu kawasan yang masih banyak dikunjungi masyarakat adalah Cempuri. Para peziarah datang dari berbagai daerah untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memohon keberkahan.
Dalam tradisi yang berkembang di kawasan tersebut, sebagian peziarah juga membawa bunga dan dupa sebagai bagian dari bentuk penghormatan terhadap tempat yang dianggap memiliki nilai kesakralan.
Melalui kegiatan napak tilas tersebut, Komunitas Napak Tilas Sirnah Gali berharap nilai-nilai sejarah, seni, budaya, dan kearifan lokal leluhur tetap terjaga dan dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan ini sekaligus diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air serta memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya bangsa Indonesia.
Catatan: Bagian mengenai Kanjeng Ratu Kidul, perjanjian dengan Panembahan Senopati, dan sifat gaib kawasan saya tuliskan sebagai kisah, keyakinan, dan tradisi yang berkembang, bukan sebagai fakta empiris, agar lebih aman secara jurnalistik.













