Napak Tilas Makam Eyang Yudo Kardono, Jejak Panglima Majapahit di Tegal Sari Surabaya

Tim Napak Tilas Sirnah Gali melakukan penelusuran sejarah ke kawasan Tegal Sari, Surabaya, Senin (13/7/2026).

RADARTERKINI..ID | SURABAYA – Tim Napak Tilas Sirnah Gali melakukan penelusuran sejarah ke kawasan Tegal Sari, Surabaya, Senin (13/7/2026). Kegiatan tersebut bertujuan mengungkap kembali jejak perjuangan Eyang Yudo Kardono atau Eyang Kudo Kardono, tokoh yang diyakini sebagai patih sekaligus panglima perang Kerajaan Majapahit.

Perjalanan dimulai dari Jalan Cempaka Nomor 25, Tegal Sari, yang menjadi lokasi pesarean tokoh bersejarah tersebut. Memasuki kawasan makam, rombongan disambut sebuah gapura megah dengan patung Rajawali dan buah pala di sisi kanan dan kiri sebagai simbol kejayaan serta kemakmuran pada masa lampau.

Di dalam kompleks pesarean juga tersedia ruang istirahat bagi peziarah dan pengunjung yang datang untuk mengenal lebih dekat sejarah peninggalan leluhur Nusantara.

Setibanya di area makam, Tim Napak Tilas Sirnah Gali disambut juru kunci yang selama bertahun-tahun menjaga kelestarian situs tersebut. Dua payung kuning besar berdiri di pintu masuk makam sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang dimakamkan.

Baca Juga :  Hujan Deras Genangi Jakarta Utara, Polres Priok Siagakan Personel dan Perahu Karet

Di dalam kompleks terdapat lima makam, termasuk makam Eyang Yudo Kardono yang dihiasi ukiran dan lambang Surya Majapahit, simbol kebesaran kerajaan yang pernah mencapai puncak kejayaan di Nusantara.

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Eyang Kudo Kardono dikenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan memiliki kesetiaan tinggi kepada Kerajaan Majapahit. Ia dipercaya memimpin pasukan dalam menumpas pemberontakan Rakuti dan Nambi yang sempat mengancam stabilitas pemerintahan Raja Jayanegara atau Kala Gemet pada periode 1309–1328 Masehi.

Sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan menjaga keutuhan kerajaan, Raja Jayanegara menghadiahkan wilayah perdukan di hilir Sungai Asin yang kini dikenal sebagai Kali Asin. Wilayah kekuasaannya juga diperluas hingga Tegal Bobot Sari yang sekarang menjadi kawasan Tegal Sari, Surabaya.

Sejumlah kalangan juga meyakini bahwa Eyang Yudo Kardono masih memiliki hubungan keluarga dengan Patih Gajah Mada dan merupakan salah satu panglima yang mendapat kepercayaan penuh dari Raja Jayanegara. Nama Eyang Kudo Kardono kemudian lebih dikenal masyarakat sebagai Eyang Yudo Kardono.

Baca Juga :  "Senyum Anak Negeri: Bakrie Amanah Ajak 480 Yatim Dhuafa Belanja Bahagia"

Bahkan, berdasarkan cerita masyarakat setempat, kompleks makam tersebut disebut-sebut pernah beberapa kali dikunjungi Presiden Soeharto bersama sejumlah pejabat tinggi negara saat masih menjabat.

Di bagian belakang pesarean masih tersimpan peninggalan bersejarah berupa arca Lingga-Yoni dengan ukiran kepala naga bernama Onto Bugo. Benda bersejarah tersebut dipercaya masyarakat sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran.

Tidak jauh dari lokasi itu juga terdapat makam Eyang Wahyu yang dikenal sebagai penasihat setia Eyang Kudo Kardono. Selain itu, terdapat sebuah sumur tua yang oleh warga sekitar diyakini memiliki air yang dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit.

Suasana di kawasan pesarean terasa tenang dan penuh nuansa sejarah. Bagi Tim Napak Tilas Sirnah Gali, situs ini bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh besar Majapahit, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang perjuangan para leluhur dalam menjaga kejayaan Nusantara.

Baca Juga :  Buka Festival Cilandak Berbudaya, Rano Karno Ingin Warga Makin Cinta Jakarta

Melalui kegiatan napak tilas ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal warisan sejarah bangsa, sekaligus ikut menjaga dan melestarikan situs-situs bersejarah agar tetap menjadi sumber pembelajaran bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.