RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Tim Napak Tilas Sirnah Gali bersama Tim Religi melakukan perjalanan spiritual ke kawasan Simo Jawar, Surabaya, pada hari ini Jumat (16/5/2025). Dalam kunjungan kali ini, tim menyusuri jejak sejarah dan nilai-nilai religi yang tertanam kuat di tempat tersebut, khususnya di kompleks pemakaman di belakang masjid, tempat dimakamkannya tokoh spiritual legendaris, Mbah Buyut Dowo.
Makam Mbah Buyut Dowo memiliki panjang sekitar lima meter, bercungkup pendopo sederhana yang tetap terawat meski dengan segala keterbatasannya. Di situlah, sosok yang dikenal sebagai pembabat alas dan tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu dimakamkan.
Menurut penuturan warga dan sesepuh setempat, dahulu Simo Jawar merupakan kawasan wingit, penuh semak belukar dan telaga. Tanah di kawasan itu konon sulit dihuni karena air yang selalu meninggi dan tanah uruk yang terus menghilang. Namun, berkat perjuangan dan keteguhan Mbah Buyut Dowo dalam berdakwah dan berdoa, wilayah ini lambat laun berubah menjadi pemukiman yang layak dihuni.
Salah satu penanda spiritual dari perjuangan beliau adalah keberadaan pohon bambu kuning dan pohon sukun yang tumbuh di sekitar lokasi beliau sering bermunajat kepada Allah SWT. Di tempat itulah beliau menengadahkan tangan, memohon agar daerah yang keras ini menjadi tempat yang barokah dan bermanfaat.
Secara garis keturunan, Mbah Buyut Dowo masih memiliki hubungan dengan tokoh lainnya seperti Mbah Jenggot, atau Mbah Bungur, Mbah Sedo Masjid. Ia juga diketahui memiliki trah dari wilayah Pasuruan, yang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa Timur.
Sebagai bentuk penghormatan, tim Napak Tilas Sirnah Gali menggelar doa bersama dan bertawasul di makam beliau. Dalam momen tersebut, terlintas sebuah pesan yang dipercaya berasal dari Mbah Buyut Dowo:
“Jangan pernah membandingkan makam yang tampak kurang indah dengan makam para wali. Karena sejatinya, semua adalah karunia dari Allah SWT.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa esensi dari spiritualitas bukan terletak pada fisik semata, melainkan pada nilai dan perjuangan yang ditinggalkan.













