RADARTERKINI.ID | MOJOKERTO – Napak tilas Sirnah Gali kembali melanjutkan perjalanan spiritualnya. Kali ini, tim yang dipimpin oleh Ki Jagad Surya bersama Cak Samsul, Mas Sulis, Mas Pras, Gus Memen, serta rekan lainnya, menapaki jejak sejarah di Gunung Welirang.
Perjalanan ini tak sekadar pendakian, melainkan upaya menelusuri kisah lama yang diyakini masih hidup di kalangan spiritual dan pecinta alam, yaitu keberadaan Air Panguripan Sumber Luwak.
Konon, lereng Gunung Welirang pernah menjadi tempat pengasingan para punggawa Kerajaan Majapahit. Saat itu, terjadi peperangan antara Majapahit dengan Kerajaan Demak. Beberapa tokoh memilih mengasingkan diri untuk mencari ketenangan sekaligus menyebarkan agama Islam ke seluruh Nusantara, dipimpin oleh Ki Danurejo bersama pengawal setianya, Eyang Wadak, dan para punggawa lainnya.
Dalam pengembaraan itu, Eyang Wadak bermunajat kepada Sang Pencipta agar diberi petunjuk menemukan sumber air. Berhari-hari ia berdoa hingga akhirnya melihat kawanan luwak menggali bebatuan di lereng gunung. Dari galian itulah kemudian memancar air jernih yang terus mengalir, memenuhi kebutuhan para punggawa. Air itu kemudian dijadikan sumur besar yang dikenal hingga kini sebagai Sumber Luwak — sumur air kehidupan penuh berkah.
Kini, Sumber Luwak banyak didatangi peziarah dan pendaki dengan tujuan tertentu. Mereka percaya air yang sangat jernih dan segar itu memiliki keberkahan, bahkan disamakan dengan air Zamzam.
Bagi yang ingin berkunjung, lokasi Sumber Luwak berada di Dusun Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Dari Makam Sunan Pangkat Krapyak, perjalanan menuju lokasi ini memakan waktu kurang lebih dua jam.













