RADARTERKINI.ID | JOMBANG, JAWA TIMUR — Momentum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi arena konsolidasi organisasi, tetapi juga membuka ruang strategis bagi penguatan ekonomi pesantren melalui investasi sektor peternakan modern.
Pada hari kedua Muktamar NU ke-35, Jumat, 28 Agustus 2026, PT Poly Energy Stock Indonesia menjajaki kerja sama investasi strategis bersama Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (DPP HEBITREN) dan WIZSTREN Indonesia. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem peternakan berbasis pesantren yang terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan.
Pertemuan strategis itu mempertemukan jajaran pimpinan dari ketiga pihak. Dari PT Poly Energy Stock Indonesia hadir Komisaris Utama Wang Baoan dan Direktur Utama Camelia Eka Susanti.
Sementara dari HEBITREN dan WIZSTREN Indonesia hadir KH. DR. Hasib Wahab Hasbullah selaku Ketua Umum DPP HEBITREN sekaligus Ketua Dewan Pembina WIZSTREN Indonesia, GSCB. Reza Fahlipi Bakhtiar, PhD. selaku Ketua Bidang Organisasi DPP HEBITREN sekaligus Ketua Dewan Pengurus WIZSTREN Indonesia, serta Dr. Robert Edy Sudarwan selaku Direktur Eksekutif WIZSTREN Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah agenda strategis dibahas, mulai dari penjajakan investasi, pembangunan infrastruktur peternakan modern, penerapan teknologi pembibitan, hingga penguatan sistem biosekuriti dan tata kelola peternakan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.
HEBITREN menawarkan kekuatan jejaring ekonomi pesantren yang tersebar di berbagai daerah sebagai basis pengembangan kemitraan dan hilirisasi sektor peternakan. Sementara WIZSTREN Indonesia akan mengambil peran dalam koordinasi teknis, pemetaan peluang strategis, serta identifikasi dan penyiapan lahan potensial yang dapat dikembangkan untuk mendukung proyek investasi tersebut.
Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren
Ketua Umum DPP HEBITREN sekaligus Ketua Dewan Pembina WIZSTREN Indonesia, KH. Hasib Wahab Hasbullah, mengatakan Muktamar NU ke-35 menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah nyata menuju kemandirian ekonomi umat melalui kekuatan ekosistem pesantren.
“Semangat Muktamar NU ke-35 di Tambakberas ini menjadi momentum penuh berkah untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat. HEBITREN memiliki ekosistem bisnis pesantren yang sangat besar, kuat, dan mengakar di seluruh Indonesia,” ujar KH. Hasib Wahab Hasbullah.
Menurutnya, potensi besar yang dimiliki pesantren perlu dikembangkan melalui pola kemitraan yang profesional dan berorientasi jangka panjang. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi dapat mengambil peran langsung dalam rantai produksi dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Dengan kolaborasi konkret bersama mitra investasi, kami berharap potensi ekonomi pesantren dapat naik kelas serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Komisaris Utama PT Poly Energy Stock Indonesia, Wang Baoan, menilai Indonesia memiliki prospek investasi yang besar, terutama dalam pengembangan industri peternakan dan ekonomi berbasis komunitas.
“Kami optimis rencana investasi yang dirancang tidak hanya membawa nilai keekonomian, tetapi juga membangun kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan dan saling menguntungkan kedua belah pihak,” kata Wang.
Sementara itu, Direktur Utama PT Poly Energy Stock Indonesia, Camelia Eka Susanti, menegaskan investasi yang dijajaki tidak semata-mata berbentuk penyertaan modal.
Menurutnya, kerja sama tersebut juga mempertimbangkan penerapan teknologi modern, standar biosekuriti, serta sistem tata kelola terintegrasi yang mampu memperkuat sektor peternakan dari hulu hingga hilir.
“Kerja sama dengan ekosistem pesantren ini adalah langkah krusial dalam merealisasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah,” ujar Camelia.
Jejaring Pesantren Siap Dikonsolidasikan
Ketua Bidang Organisasi DPP HEBITREN sekaligus Ketua Dewan Pengurus WIZSTREN Indonesia, GSCB. Reza Fahlipi Bakhtiar, PhD., mengatakan kesiapan organisasi dan tata kelola menjadi salah satu kunci penting dalam merealisasikan rencana investasi tersebut.
“Kami di bidang organisasi DPP HEBITREN bersama WIZSTREN memastikan seluruh instrumen jejaring pesantren siap menyambut skema kemitraan ini secara profesional, transparan, dan terstruktur demi menciptakan dampak ekonomi yang terukur,” ujarnya.
Menurut Reza, konsolidasi jejaring pesantren menjadi bagian penting agar setiap rencana investasi dapat dijalankan dengan sistem yang jelas, terukur, dan memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Sementara Direktur Eksekutif WIZSTREN Indonesia, Robert Edy Sudarwan, menegaskan kesiapan pihaknya untuk mendukung seluruh proses teknis di lapangan.
“WIZSTREN akan melakukan koordinasi teknis, menyusun analisis strategis, serta memetakan lahan-lahan potensial milik jejaring pesantren yang memenuhi kualifikasi untuk mendukung investasi ini,” katanya.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman awal untuk melanjutkan pembahasan melalui pembentukan joint working group atau tim kerja bersama antara PT Poly Energy Stock Indonesia, HEBITREN yang diwakili MEP (Manajemen Eksekutif Perkumpulan), serta WIZSTREN melalui DEN (Dewan Eksekutif Nasional).
Tim kerja bersama tersebut nantinya akan mematangkan berbagai aspek penting, mulai dari model dan skema investasi, kajian kelayakan proyek, aspek teknis, kepatuhan terhadap regulasi, hingga peninjauan calon lokasi proyek.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya model investasi berbasis ekosistem pesantren yang mampu mengintegrasikan modal, teknologi, jejaring pesantren, ketersediaan lahan, produksi, hingga hilirisasi dalam satu rantai nilai ekonomi.
Melalui model tersebut, pesantren diharapkan tidak hanya terus berperan sebagai pusat pendidikan dan sosial-keagamaan, tetapi juga tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat yang produktif, profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
Momentum Muktamar NU ke-35 di Tambakberas pun menjadi titik awal bagi lahirnya peluang baru, ketika kekuatan jejaring pesantren dipertemukan dengan investasi dan teknologi untuk membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi umat di berbagai daerah Indonesia.













