Napak Tilas di Pangeran Benowo: Menguak Jejak Sejarah di Surabaya Barat

Avatar photo

RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Tim Napak Tilas Sirnah Gali kembali melakukan penelusuran jejak para wali dan tokoh bersejarah. Kali ini perjalanan dilakukan di perbatasan Kota Surabaya dan Gresik, tepatnya di kawasan Benowo, Kecamatan Pakal, Surabaya Barat, pada Sabtu (6/9).

Rombongan menuju sebuah makam bersejarah yang berada di belakang Rumah Sakit Islam Surabaya. Di sinilah terdapat makam Pangeran Benowo, yang juga dikenal sebagai Syekh Abdul Halim atau lebih masyhur disebut Mbah To Sari. Beliau merupakan putra dari Sultan Hadiwijaya, Raja pertama Kerajaan Pajang yang lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir.

Baca Juga :  Vaksin TBC M72 Didukung Gates Foundation Mulai Diuji di Indonesia, Lebih dari 2.000 Relawan Sudah Disuntik

Dalam kunjungannya, tim Napak Tilas menggelar doa bersama dan istighosah di area makam. Suasana hening menyelimuti ketika mereka mengkaji kembali perjalanan hidup Pangeran Benowo, sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa.

Sejak kecil, Pangeran Benowo tumbuh bersama Sutawijaya—anak angkat Jaka Tingkir yang kelak mendirikan Kerajaan Mataram. Namun, hubungan keduanya sempat diuji ketika Jaka Tingkir menugaskan Pangeran Benowo untuk menguji kesetiaan Sutawijaya terhadap Pajang. Peristiwa itu berujung duka setelah terjadi insiden terbunuhnya seorang prajurit Tuban oleh putra Sutawijaya, Raden Rangga.

Laporan Arya Pamad, kakak ipar Pangeran Benowo, menegaskan bahwa Mataram berniat memberontak. Benar saja, pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Pajang hingga berakhir dengan wafatnya Jaka Tingkir. Seharusnya Pangeran Benowo naik takhta, namun posisinya digantikan oleh Arya Pangiri, Adipati Demak.

Baca Juga :  Bertemu Pramono, Ahok Saran PBB Diturunkan karena NJOP Tak Sesuai

Meski demikian, pada tahun 1586, Pangeran Benowo akhirnya bersekutu dengan Sutawijaya. Keduanya berhasil menggulingkan Arya Pangiri. Pangeran Benowo pun naik takhta sebagai Raja Pajang dengan gelar Prabu Wijaya.

Namun, setelah itu ia memilih jalan dakwah. Dalam pengembaraan spiritualnya, Pangeran Benowo bertemu dengan Sunan Giri dan diutus untuk menyebarkan Islam di berbagai daerah.

Kini, makam Pangeran Benowo ramai dikunjungi peziarah, tokoh agama, hingga pejabat pemerintahan. Sosoknya tetap dikenang bukan hanya sebagai pewaris tahta, tetapi juga sebagai penyebar Islam yang berjasa bagi masyarakat Jawa.

Penulis: Didik Djatmiko Editor: Tama