Jejak Prabu Brawijaya V di Gunung Welirang Kembali Ditelusuri, Simpan Misteri Majapahit

Kelompok Napak Tilas Sirnah Gali melakukan penelusuran jejak sejarah yang diyakini berkaitan dengan Prabu Brawijaya V beserta para pengikut setianya di kawasan Gunung Welirang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026).

RADARTERKINI.ID | Pacet, Mojokerto – Kelompok Napak Tilas Sirnah Gali melakukan penelusuran jejak sejarah yang diyakini berkaitan dengan Prabu Brawijaya V beserta para pengikut setianya di kawasan Gunung Welirang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026).

Kegiatan yang dipimpin Jatmiko Didik bersama Gus Pras, Kyai Surya Jagat, Mas Teguh, dan Cak Sulis tersebut bertujuan menelusuri situs-situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit sekaligus menggali kembali nilai sejarah dan spiritual yang masih melekat di kawasan pegunungan tersebut.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalur setapak yang sempit, berkelok, dan licin di tengah rimbunnya hutan Gunung Welirang. Setelah menempuh pendakian hingga ketinggian sekitar 1.750 meter di atas permukaan laut, rombongan tiba di kawasan Puthuk Puyang yang dikenal sebagai kompleks pertapaan kuno peninggalan era Majapahit.

Kompleks yang diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1293 hingga 1543 Masehi itu masih menyisakan berbagai struktur arsitektur berbahan batu andesit. Di lokasi tersebut terdapat teras berundak, tangga batu, sisa bangunan menyerupai candi, meja pemujaan, meja batu untuk ritual, lumpang batu, sejumlah arca, hingga dinding penahan tanah yang masih dapat dikenali.

Baca Juga :  Walikota Lubuk Linggau Peletakan Batu Pertama Pembangunan RTLH

Balok-balok batu berukuran besar yang tersebar di berbagai sudut kawasan menjadi saksi bisu kemegahan bangunan yang pernah berdiri di lokasi tersebut. Hingga kini, masyarakat sekitar tetap menjaga kesakralan kawasan itu sehingga masih sering dikunjungi peziarah maupun pemerhati sejarah.

Di salah satu bagian kompleks terdapat pesanggrahan sederhana yang dikenal sebagai petilasan Eyang Wadak. Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Eyang Wadak dipercaya sebagai pengawal sekaligus orang kepercayaan Prabu Brawijaya V. Nama “Wadak” dimaknai sebagai wadah atau tempat yang melambangkan keteguhan dalam memegang amanah.

Baca Juga :  Hoiruddin Hasibuan Terpilih Aklamasi, PAPPSI Siap Dorong Kemajuan Tabagsel

Tidak jauh dari lokasi tersebut, tepat di sisi timur kawasan, terdapat makam dan petilasan Joko Lelono serta Eyang Kendali Sodo. Sosok Eyang Kendali Sodo dikenal sebagai seorang resi yang mengabdikan hidupnya untuk bertapa dan memperdalam ilmu batin. Namanya mengandung filosofi tentang kemampuan mengendalikan diri serta menjaga keseimbangan alam semesta, sekaligus menahan gejolak hawa nafsu manusia.

Semakin menuju lereng yang lebih tinggi, susunan batu peninggalan masa lampau masih terlihat berdiri meski sebagian telah tertutup lumut dan akar pepohonan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kawasan tersebut diyakini menjadi lokasi pertapaan Prabu Brawijaya V pada masa-masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit.

Walaupun kondisi fisik bangunan terus mengalami perubahan akibat usia dan pengaruh alam, nilai sejarah dan spiritual kawasan itu tetap terjaga. Banyak masyarakat datang untuk berziarah, bermeditasi, mencari ketenangan batin, maupun mempelajari jejak peradaban Majapahit yang masih tersisa.

Baca Juga :  Polres Priok Siapkan Pengamanan Nataru, Keselamatan Pelayaran Jadi Fokus Utama

Melalui kegiatan napak tilas ini, Kelompok Napak Tilas Sirnah Gali berharap sejarah perjalanan Prabu Brawijaya V beserta para pengikut setianya dapat terus dikenang, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan budaya bangsa Indonesia.