RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Tim Napak Tilas Sirnah Gali melakukan perjalanan sejarah dengan mengunjungi sebuah makam yang berada di Gang 4, Kelurahan Wiyung, Surabaya, pada Sabtu (30/5/2026). Makam tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh yang dikenal sebagai Ki Ageng Selo atau Syekh Abdurrahman, yang oleh masyarakat sekitar lebih akrab dipanggil Mbah Buyut Jati.
Kegiatan napak tilas ini dilakukan sebagai upaya menelusuri jejak sejarah penyebaran Islam sekaligus mengenang jasa para tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban di Nusantara.
Saat memasuki area makam, rombongan disambut suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan. Di lokasi tersebut, Tim Napak Tilas Sirnah Gali melaksanakan doa bersama dan bertawasul, memohon keridhoan Allah SWT atas perjuangan para ulama dan pejuang Islam yang telah mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi penerus.
Berdasarkan catatan Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Selo merupakan keturunan Raja Majapahit Brawijaya V. Silsilah tersebut bermula dari pernikahan Brawijaya V dengan Putri Wandan Kuning yang melahirkan Bondan Kejawen atau Lembu Peteng. Lembu Peteng kemudian menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub, dan dikaruniai seorang putra bernama Ki Ageng Getas Pendawa. Dari garis keturunan inilah lahir Ki Ageng Selo atau Syekh Abdurrahman.
Dalam sejarah Jawa, Ki Ageng Selo dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, dermawan, sekaligus seorang petani dan petapa. Setiap musim panen, ia disebut selalu membagikan hasil pertaniannya kepada warga sekitar agar tidak ada tetangga yang mengalami kesulitan pangan.
Selain itu, Ki Ageng Selo juga mendirikan Padepokan Tedja Kentjana yang menjadi tempat menimba ilmu bagi banyak murid dari berbagai daerah. Salah satu murid yang terkenal adalah Jaka Tingkir yang kemudian menjadi raja pertama Kerajaan Pajang.
Sosok Ki Ageng Selo juga dikenal melalui kisah-kisah legendaris yang berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah cerita tentang kemampuannya menangkap bledeg atau petir yang hendak menyambarnya, yang hingga kini masih menjadi bagian dari cerita rakyat Jawa.
Kunjungan Tim Napak Tilas Sirnah Gali ini menjadi pengingat bahwa di kawasan selatan Surabaya masih tersimpan jejak sejarah penting tentang tokoh penyebar agama Islam yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah bangsa dan perkembangan nilai-nilai keislaman di Nusantara.













