Hangatnya Senja Ramadan, Pokja PWI Jakarta Timur Buka Puasa Bersama Santri di Lebak

Avatar photo
Suasana senja di Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah, Kampung Pasir Akmad, Desa Muara 2, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,

RADARTERKINI.ID | LEBAK, BANTEN – Suasana senja di Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah, Kampung Pasir Akmad, Desa Muara 2, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terasa begitu syahdu. Menjelang azan Magrib, para santri memanfaatkan momen nunggu buka puasa dengan mengaji Al-Qur’an dan kitab di halaman asrama putri.

Berbekal karpet sederhana yang digelar di tanah terbuka, para santri duduk berbaris rapi sambil memegang kitab masing-masing. Hingga kini, pesantren tersebut belum memiliki masjid atau majelis yang luas untuk menampung seluruh santri secara bersamaan. Namun keterbatasan itu tak mengurangi kekhusyukan mereka dalam menimba ilmu.

Baca Juga :  DJBC–Pokja PWI Jaktim Jalin Sinergi Baru untuk Perkuat Informasi Publik

Kehangatan bertambah saat pengurus Pokja PWI Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur hadir untuk bersilaturahmi sekaligus melaksanakan buka puasa bersama para santri. Kehadiran rombongan disambut penuh rasa syukur oleh keluarga besar pesantren.

Abi Zam Zam dalam keterangannya menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan kebersamaan yang terjalin. “Kami sangat bersyukur atas kedatangan dan kepedulian dari pengurus Pokja PWI. Ini menjadi penyemangat bagi anak-anak santri kami untuk terus belajar meski dalam keterbatasan,” ujarnya.

Ia berharap ke depan Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah dapat memiliki majelis yang lebih luas agar seluruh santri dapat mengikuti pengajian dalam satu tempat yang layak dan nyaman.

Baca Juga :  Bupati Dairi Periode 2025-2030,Vickner Sinaga Sampaikan Pidato Perdana Pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD

Sementara itu, Umi Lela menuturkan bahwa momen kebersamaan saat Ramadan memiliki makna mendalam bagi para santri.

“Anak-anak sangat bahagia bisa berbuka bersama. Bukan hanya makanannya, tetapi perhatian dan kebersamaan itulah yang membuat mereka merasa diperhatikan,” katanya.

Takjil berupa bubur kacang hijau dibagikan menjelang berbuka. Senyum sumringah para santri terlihat saat menerima hidangan sederhana tersebut. Kebersamaan yang penuh makna itu berlangsung hangat pada Minggu (22/2/2026), menjadi potret nyata bahwa di balik keterbatasan fasilitas, semangat menuntut ilmu dan kebersamaan tetap tumbuh kuat.

Penulis: AurelyaEditor: Tama