RADARTERKINI.ID | SURABAYA – Waktu berjalan tanpa terasa, namun jejak sejarah tetap hidup di hati para pecinta sejarah dan peziarah. Tim Napak Tilas Sirnah Gali kembali menelusuri kisah masa lalu dengan mengunjungi salah satu makam yang sarat karomah dan cerita spiritual, yakni makam Mbah Shonhaji atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Bolong, Selasa (6/1/2026).
Makam Mbah Bolong merupakan salah satu situs bersejarah yang hingga kini masih ramai dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Sosok Mbah Shonhaji dikenal sebagai murid Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan turut terlibat dalam sejarah berdirinya Masjid Agung Sunan Ampel di kawasan Ampel, Surabaya Utara.
Masjid Agung Sunan Ampel sendiri berdiri sekitar tahun 1421 Masehi. Masjid bersejarah ini ditopang oleh 16 tiang kayu jati berukuran besar tanpa sambungan, dengan tinggi sekitar 17 meter dan diameter 60 sentimeter. Tinggi tiang tersebut melambangkan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari.
Dalam proses pembangunan masjid pada masa itu, muncul pertanyaan besar terkait penentuan arah kiblat yang benar. Sunan Ampel kemudian menunjuk dan mempercayakan Mbah Shonhaji untuk memastikan arah kiblat tanpa keraguan.
Menurut cerita yang terus hidup hingga kini, Mbah Shonhaji menuju ke bagian depan tempat imam memimpin salat. Di lokasi tersebut, ia melubangi bagian bangunan untuk memastikan arah kiblat yang sesungguhnya. Melalui lubang tersebut, para santri dan pengikut Sunan Ampel satu per satu melihat dan menyaksikan Ka’bah di Kota Mekah.
Peristiwa tersebut mengejutkan banyak pihak dan sejak saat itu, Mbah Shonhaji mendapat sebutan Mbah Bolong, yang hingga kini melekat erat dalam ingatan masyarakat dan peziarah.
Selain berziarah dan mendoakan, banyak peziarah datang untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan bertawasul terlebih dahulu melalui makam Sunan Ampel dan makam Mbah Bolong. Makam ini dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat.
Dalam kunjungan tersebut, Tim Napak Tilas Sirnah Gali juga menggelar doa bersama dan melaksanakan istighosah di area makam. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual, memohon pertolongan serta keberkahan kepada Allah SWT, sekaligus menjaga dan menghidupkan kembali jejak sejarah yang mulai tergerus oleh zaman.













