RADARTERKINI.ID | MOJOKERTO – Tim Napak Tilas Sirnah Gali kembali menyusuri jejak sejarah Nusantara dengan melangkahkan kaki ke sebuah kawasan sakral yang sarat nilai peradaban, Makam Pituh (Makam Tujuh), yang berada di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, hari ini, Senin (29/12/2025).
Perjalanan diawali dengan langkah penuh kesadaran sejarah, menyusuri kawasan pemakaman umum di belakang Makam Syekh Jumadil Kubro. Setibanya di pintu gerbang area Makam Pituh, tim merasakan energi spiritual yang kuat menyelimuti kawasan tersebut. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, tim memasuki area pemakaman dan mengamati satu per satu makam yang berada di dalamnya.
Makam Pituh terdiri dari tujuh makam yang seluruhnya diselimuti kain kuning berlambang Surya Majapahit. Kompleks makam ini diyakini sebagai makam tertua peninggalan era Majapahit. Batu nisan seluruh makam terbuat dari batu andesit dengan pahatan dan ukiran yang sarat makna sejarah serta spiritual.
Salah satu makam adalah Pangeran Noto Suryo, dengan ukiran kalimat Lā ilāha illallāh Muhammadur Rasūlullāh. Pada sisi balik batu nisan terdapat ukiran Surya Majapahit serta pahatan tahun 1397 Saka (1475 M).
Makam Patih Noto Kusumo juga memuat kalimat tauhid, dilengkapi ukiran sinar matahari dengan bunga teratai di bagian tengah. Di bawah pahatan tersebut terukir angka tahun 1349 Saka (1427 M).
Pada makam Gajah Pramodo, terukir kalimat tauhid yang sama, simbol sinar matahari Majapahit, bunga teratai, serta angka tahun 1399 Saka (1477 M).
Sementara itu, makam Naya Genggong memuat tulisan Arab Kullu nafsin dzāiqatul maut, yang bermakna setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Nisan bagian kepala makam ini juga dihiasi ukiran sinar matahari dan bunga teratai.
Tiga makam lainnya diyakini sebagai makam Sabda Palon, Emban Kinasih, dan Polo Putro, tokoh-tokoh penting yang dikenal sebagai penasihat serta petinggi Kerajaan Majapahit.
Kompleks Makam Pituh berada di dalam area pemakaman umum yang dibentengi tembok setinggi kurang lebih satu setengah meter dan dilengkapi bangunan pendopo. Situs ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya peninggalan era Majapahit, yang memiliki nilai sejarah tinggi dan patut dijaga serta dilestarikan.
Sebagai penutup rangkaian napak tilas, Tim Sirnah Gali menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa bagi kemakmuran Bumi Nusantara.













